Artikel

Tradisi Mejurag Tipat, Serangkaian Upacara Nangluk Merana Desa Adat Sekardadi

26 Desember 2025 10:28:06  Administrator  53 Kali Dibaca  Berita Desa

Sekardadi – Desa sekardadi merupakan salah satu desa dengan berbagai tradisi adat dan juga budaya. Beralamat lengkap Desa Sekardadi, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, Indonesia menjadikan Sekardadi sebagai salah satu desa dengan kekentalan tradisi dan budaya yang ada di Bali. dengan kekayaan tersebut Desa Sekardadi layak dijadikan sebagai salah satu destinasi budaya yang cocok untuk dikunjungi. 

Salah satu tradisi yang ada di desa sekardadi adalah tradisi mejurag tipat, yang pelaksanaannya serangkaian dengan upacara nangluk merana (mecaru) Desa Sekardadi. Pelaksanaan nangluk merana atau mecaru Desa Sekardadi rutin dilaksanakan setiap satu tahun sekali, yang jatuh tepat pada pertengahan sasih ke enam, Pada tahun ini, upacara nangluk merana jatuh pada tanggal 22 Desember 2025. 

Upacara nangluk merana adalah ritual penting bagi umat Hindu Bali yang bertujuan untuk memohon perlindungan dari segala macam bencana, hama, penyakit tanaman, hewan, dan manusia, terutama saat musim pancaroba (Sasih Kanem). Ritual ini dilakukan untuk menolak energi negatif (merana) dengan cara "menundukkan" atau "menangkalnya," sehingga tercipta keseimbangan antara alam semesta (Bhuana Agung) dan manusia (Bhuana Alit), selaras dengan filosofi Tri Hita Karana. 

Upacara nangluk merana di Desa Sekardadi memiliki keunikannya tersendiri, letak keunikan upacara ini adalah “mejurag tipat” yang dilakukan oleh anak-anak. Dari hasil wawancara dengan salah satu pemangku yang ada di Sekardadi mengatakan, “mejurag tipat sendiri merupakan persembahan kepada Sang Hayang Butha yang disimbulkan dengan anak-anak yang berebut tipat sebagai persembahan” ujar mangku Pande 

Rangkaian upacara mecaru dimulai dengan banjar atau masyarakat desa berkumpul untuk mempersiapkan sarana dan prasarana upacara. Salah satu sarana yang digunakan adalah satu ekor sapi dan satu ekor babi sebagai sarana utama.

Setelah sarana dan prasarana siap, seluruh masyarakat dari anak-anak hingga orang dewasa akan berkumpul di perbatasan desa. Pemangku yang bertugas menghaturkan sesajen akan mengucapkan mantra-mantra untuk dipersembahkan kepada Ida Hyang Widhi danButa Kala, memohon keharmonisan dalam kehidupan masyarakat Desa Sekardadi. 

Setelah itu, masyarakat akan melaksanakan acara makan bersama yang disebut dengan istilah megibung. Masyarakat akan membentuk kelompok yang terdiri dari empat orang dan akan mendapatkan satu gibung yang berisi nasi dan lauk dari daging sapi dan daging babi. Setelah makan bersama usai, anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar akan melakukan upacara mejurag tipat. 

Ketupat dan telur akan digantung di bambu yang dibentangkan seperti gawang sepak bola. Setelah itu, anak-anak akan berbaris atau mencari posisi di seberang jalan raya. Kemudian, anak-anak ini akan diberi aba-aba untuk berlari dan saling berebut ketupat dan telur yang digantung.

Upacara mecaru atau mejurag tipat ini dilaksanakan dalam satu hari dengan lokasi yang berbeda. Lokasi pertama dilaksanakan di batas desa atau yang disebut dengan istilah mangkalan. Lokasi kedua dilaksanakan di pertengahan desa, yang disebut dengan perempatan agung (catus pata Desa Sekardadi). Sarana sapi akan dihaturkan di perbatasan desa mangkalan, dan sarana babi akan dihaturkan di pertengahan desa, yaitu perempatan agung/catus pata Desa Sekardadi.

 

Penulis : Suasna 

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
E-mail
Isi Pesan
  CAPTCHA Image  
 

 Statistik

 Sinergi Program

 Pemerintah Desa

 Media Sosial

 Arsip Artikel

 Agenda

Belum ada agenda

 Statistik Pengunjung

  • Hari ini:394
    Kemarin:348
    Total Pengunjung:330.085
    Sistem Operasi:Unknown Platform
    IP Address:18.97.14.81
    Browser:Tidak ditemukan

 Peta Wilayah Desa

 Komentar

 Hubungi kami

Hubungi Kami

Hubungi Kami